People Innovation Excellence

Domain Ilmu Sistem Penunjang Keputusan

Penulis

Dr.rer.nat. Ditdit Nugeraha Utama

Computer Science Department, BINUS Graduate Program-Master of Computer Science, Bina Nusantara University, Jakarta, Indonesia 11480

ditdit.utama@binus.edu

Sistem Penunjang Keputusan hadir sebagai sebuah domain ilmu” (Utama, 2017)

Apa yang tidak ada ilmunya? Semua fenomena alam di-treat berdasarkan ilmu yang spesifik peruntukkannya. Tidak ada satu pun di alam ini yang tidak menggunakan ilmu untuk men-treat-nya. Bahkan untuk sebuah aktivitas “tidur”, pun sebaiknya bukan hanya dalam rangka memejamkan mata, namun kita dituntut untuk melakukan beberapa hal (kadang kita sebut dengan ritual) sebelum, selagi, dan juga ketika bangun dari tidur. Sehingga, tidur yang kita lakukan bukan hanya sekedar tidur tanpa makna, namun sebuah tidur yang berkualitas, yang akan memberikan efek positif bagi orang yang melakukannya.

Lebih-lebih ketika – misalnya – seorang manajer sebuah perusahaan mengambil sebuah keputusan penting nan krusial, yang jika gagal akan berdampak secara strategis atas keberlangsungan perusahaannya. Tentulah si manajer membutuhkan sebuah guidance/alat/sistem dan atau prosedur-prosedur skematis agar keputusan yang diambil adalah keputusan yang objektif, keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dan jauh dari sifat subjektif. Hal-hal kuat inilah yang memungkinkan sistem penunjang keputusan (SPK) hadir sebagai sebuah domain ilmu. SPK hadir tidak hanya menjadi sistem berbasis komputer atau bahkan sebuah aplikasi digital, namun dengan kandungan filosifis yang dapat diambil dari serangkaian prosedur, analisis, kemampuan mengambil konklusi dan alasan (reasoning), yang – lalu – dipadupadankan dengan metode-metode cerdas, memungkinkan SPK memberikan ilham lebih di dalam seseorang dan atau sekelompok orang mengambil sebuah keputusan penting.

Keberadaan tiga komponen utama SPK (Turban et al. 2011), bukan hanya menjadikan SPK dipandang sebagai sebuah sistem berbasis komputer, namun menjadikan SPK telah layak disebut sebagai sebuah domain ilmu. Keberadaan data, tentu tidak dapat dipandang sebagai sebuah teknologi basis data saja. Keberadaan data di dalam pengambilan keputusan dapat diartikan bahwa keputusan yang diambil akan menjadi keputusan objektif, ketika data yang dipertimbangkan adalah bersifat massif, akurat, benar, dan jaminan ada setiap saat. Data lebih lanjut akan menjadi objek penelitian yang menarik untuk dikaji lebih mendalam, karena data telah menjadi sebuah domain ilmu sendiri (data science; Dichev and Dicheva, 2017; Chessel, 2017; Brunner and Kim, 2016).

Begitu juga dengan model. Model akan gagal dipahami, ketika ia hanya dipandang sebagai sebuah teknologi. Keilmuan tentang pemodelan telah menjadikan model itu sendiri layak dikatakan sebuah domain ilmu (Laniak et al. 2013; Hauhs, 1990), yang disiapkan keberadaannya untuk dikaji lebih mendalam oleh para ilmuan. Begitu juga dengan cara menyampaikan dan menyebarkan informasi dan hasil keputusan, bukankah ini pun menjadi sebuah bidang ilmu tersendiri sendiri, yang cabang keilmuannya telah merambah masuk ke berbagai bidang lainnya (Häussler and Salerno, 2016; Rogers et al. 2015).

Pada akhirnya, ketika SPK dipandang sebagai sebuah domain ilmu, SPK menjadi menarik dan terbuka lebar untuk diteliti. Maka, mari kita bermain-main lebih dekat dan mendalam dengan domain ilmu SPK ini, karena SPK adalah domain ilmu.

Referensi

Brunner, R.J. and Kim, E.J. 2016. Teaching data science. Procedia Computer Science, 80, pp. 1947-1956.

Chessel, A. 2017. An overview of data science uses in bioimage informatics. Methods, 115, pp. 110-118.

Dichev, C. and Dicheva, D. 2017. Towards data science literacy. Procedia Computer Science, 108, pp. 2151-2160.

Hauhs, M. 1990. Ecosystem modeling: Science or technology? Journal of Hydrology, 116(1-4), pp. 25-33.

Häussler, T. and Salerno, A. 2016. Studies in communication sciences: Articulating the diversity of a discipline. Studies in Communication Sciences, 16(2), pp. 105-106.

Laniak, G.F., Rizzoli, A.E., and Voinov, A. 2013. Thematic issue on the future of integrated modeling science and technology. Environmental Modeling & Software, 39, pp. 1-2.

Rogers, C.R., Nulty, K.L., Betancourt, M.A., and DeThorne, L.S. 2015. Causal effects on child language development: A review of studies in communication sciences and disorders. Journal of Communication Disorders, 57, pp. 3-15.

Turban, E., Sharda, R., and Delen, D. 2011. Decision Support and Business Intelligence Systems. Prentice Hall.

Utama, D.N. 2017. Sistem Penunjang Keputusan: Filosofi, Teori, dan Implementasi. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.


Published at :
Written By
Dr.rer.nat. Ditdit Nugeraha Utama
Lecture Specialist S3 | Universitas Bina Nusantara
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close